Dalam penerapan kurikulum merdeka pada satuan pendidikan yang memiliki jurusan otomotif pada CP (Capaian Pembelajaran) dasar sistem hidrolik dan pneumatik di akhir fase E peserta didik supaya mampu memahami prinsip dasar sistem hidrolik dan pneumatik, termasuk fungsi dan cara kerja komponen sistem hidrolik dan pneumatik, perawatan dan pengujian komponen sistem hidrolik dan pneumatik.
Kenapa dalam satu CP ada dua materi yang harus dituntaskan? Apakah keduanya tidak memiliki perbedaan sehingga dijadikan dalam satu CP? Dalam artikel kali ini penulis akan berbagi tentang perbedaan sistem hidrolik dan pneumatik dilengkapi contoh beserta gambarnya. Cekidot :
Perbedaan Sistem Hidrolik dan Pneumatik
Ada 5 perbedaan mendasar dari kedua sistem ini ditinjau dari :
- Tenaga Penggerak
- Tekanan yang Dihasilkan
- Komponen
- Cara Kerja
- Perawatannya.
Adapun Penjabarannya yaitu :
1. Tenaga Penggerak
Sistem hidrolik merupakan sebuah sistem untuk untuk menghasilkan tenaga mekanik sebagai sumber tenaga penggerakknya memanfaatkan tekanan fluida/cairan. Sedangkan sistem pneumatik yaitu sebuah teknologi untuk menghasilkan gerakan mekanis menggunakan udara terkompresi/bertekanan.
2. Tekanan yang Dihasilkan
Sistem hidrolik bekerja pada tekanan yang lebih besar dibandingkan pneumatik. Jika hidrolik ada pada kisaran 6,9-34 MPa (sekitar 6,900-34,000 KPa), maka pneumatik ada pada kisaran 550-690 KPa.
3. Komponen
Komponen sistem hidrolik secara garis besar yaitu pompa hidrolik berfungsi sebagai penekan cairan hidrolik, kopling adalah komponen penyambung yang menghubungkan penggerak mula (motor listrik) dengan pompa hidrolik, tangki hidrolik (reservoir) merupakan bagian dari instalasi unit tenaga yang konsruksinya ada bermacam-macam, ada yang berbentuk silindris dan ada pula yang berbentuk kotak, baffle Plate berfungsi sebagai pemisah antara cairan hidrolik yang baru datang dari sirkulasi dan cairan hidrolik yang akan dihisap oleh pompa, filter berfungsi untuk menyaring kotoran-kotoran atau kontaminan yang berasal dari komponen sistem hidrolik, dan aktuator (unit penggerak) unit ini berfungsi untuk menghasilkan gerak atau usaha yang merupakan hasil akhir atau output dari sistem hidrolik.
Adapun komponen sistem pneumatik secara garis besar ada kompresor yang berfungsi untuk menghisap udara yang berada di atmosfer dan menyimpannya ke dalam tabung penampung udara atau receivoir air, air dryer / air trap berfungsi untuk memisahkan kandungan air pada udara yang masuk dari kompresor, air filter berfungsi untuk memisahkan udara dari kemungkin adanya debu dan kotoran yang mungkin ada di dalam udara, regulator berfungsi mengatur jumlah tekanan udara yang mengalir menuju ke actuator telah sesuai dengan standar, solenoid valve berfungsi untuk mengarahkan aliran udara bertekanan dengan sistem penggerak berupa coil electric atau pneumatic, actuator atau air cylinder bergerak berdesarkan solenoid valve, jika solenoid valve menyalurkan udara bertekanan dari air cylinder ke inlet maka piston akan bergerak maju. Sedangkan apabila solenoid valve menyalurkan udara bertekanan dari air cylinder ke outlet maka piston akan bergerak mundur.
4. Cara Kerja
Menurut cara kerjanya. Sistem hidrolik memanfaatkan fluida / zat cair, adapun sistem pneumatik memanfaatkan udara yang dimampatkan. Sistem hidrolik lebih menekankan pada pemanfaatan Hukum Pascal, sedangkan sistem pneumatik bekerja dengan memanfaatkan hukum-hukum aeromekanika.
5. Perawatan
Perawatan sistem hidrolik lebih mudah namun memerlukan investasi diawal yang cukup besar, fluida / cairan sebagai tenaga penggerakknya tidak akan habis / berkurang bila tidak terjadi kebocoran. Sedangkan sistem pneumatik memerlukan biaya perawatan yang cenderung besar, karena udara sebagai tenaga kerja biasanya kotor dan mengandung air, sehingga dapat menyebabkan gesekan antara komponen di dalamnya yang mampu mempercepat kerusakan pada alat.
Contoh Penerapan Sistem Hidrolik Pada Otomotif dan Gambarnya
Power Steering

Sistem power steering memiliki sebuah boster hidrolik dibagian tengah mekanisme kemudi agar kemudi menjadi lebih ringan dalam keadaan normal beratnya putaran roda kemudi adalah 2-4 kg. Sistem power stering direncanakan untuk mengurangi usaha pengemudian bila kendaraan berputar pada kecepatan rendah dan menyesuaikannya pada tingkat tertentu bila kendaraan mulai bergerak pada kecepatan medium sampai kecepatan tinggi.
Baca Juga : 3 Komponen Sistem Kemudi Lengkap Beserta Gambar + Fungsinya
Contoh Penerapan Sistem Pneumatik Pada Otomotif dan Gambarnya
Impact Wrench

Impact Wrench digunakan untuk penggantian ban. Saat memutar baut dalam kondisi mobil di dongkrak, ban harus dalam keadaan tidak bergerak. Tetapi dengan impact wrench, ban tidak ikut berputar karena impact wrench hanya memutar baut nya saja. Karena itu saat mendongkrak dapat memutarnya tanpa menggerakkan ban nya. Impact wrench juga bisa digunakan untuk melepaskan roda bus dan truk besar, dan juga bisa untuk melepaskan flywheel.
Demikian sedikit berbagi yang dapat kami tuliskan dalam artikel kali ini. Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan pembaca sekalian. Terimakasih telah berkunjung, salam otomotif.
Sumber Referensi : https://guru.kemdikbud.go.id/kurikulum/referensi-penerapan/capaian-pembelajaran/smk/dasar-dasar-teknik-otomotif/fase-e/