Fungsi dan Cara Kerja Mass Air Flow (MAF) Sensor pada Mobil EFI

Fungsi dan Cara Kerja Mass Air Flow (MAF) Sensor pada Mobil EFI

Pecinta otomotif sekalian yang saya hormati, untuk era ini dan kedepannya kita tidak bisa lepas lagi dari yang namanya teknologi. Teknologi terus dikembangkan dengan tuntutan tercapainya kenyamanan dan keamanan dalam berkendara serta ekonomis dari segi pemakaian bahan bakar dan perawatannya. Salah satu penunjang untuk mencapai ekonomis dalam penggunaan bahan bakar, mobil sekarang sudah dilengkapi dengan berbagai sensor. Contoh sensor yang saat ini sedang anda pelajari adalah MAF (Mass Air Flow) Sensor.

MAF sensor dipasang pada saluran udara antara filter dan intake maniflod. MAF Sensor terdapat pada EFI tipe L atau L-EFI. Pada umunya di dalam sensor ini juga terdapat Sensor IAT (Intake Air Temperature), jadi MAF sensor dan IAT sensor pada mobil injeksi tipe L-EFI memiliki satu socket. Beda dengan mobil dengan tipe D-EFI yang sensor MAF nya terpisah tersendiri dari IAT sensor. Sedangakan pada mobil diesel bisa ditemukan pada mobil diesel dengan sistem common rail seperti Toyota Fortuner, Ford Ranger dan sebagainya.

Baca Juga : Fungsi dan Cara Kerja MAP Sensor Lengkap Beserta Gambarnya

Fungsi Mass Air Flow (MAF) Sensor

MAF sensor berfungsi untuk mengukur jumlah udara yang masuk ke dalam ruang bakar. Di dalam MAF sensor biasanya juga terdapat IAT sensor yang berfungsi untuk mendeteksi suhu udara yang masuk ke saluran intake manifold. Jumlah aliran udara yang masuk akan mengubah output signal dari sensor ini menuju ke ECU. Selanjutnya informasi yang diterima oleh ECU akan diolah dan diteruskan ke Injektor untuk menginjeksikan sejumlah bahan bakar yang sesuai dengan kebutuhan mesin berdasarkan putaran dan beban engine.

Cara Kerja Mass Air Flow (MAF) Sensor

Berdasarkan wiring diagram Mass Air Flow Sensor diatas, MAF sensor bekerja sesuai dengan jumlah udara yang masuk ke dalam intake manifold. Kemudian silicon chip yang terpasang dalam unit sensor akan berhubungan dengan suhu udara dalam manifold. Perubahan jumlah dan kecepatan udara, serta suhu yang masuk ke intake manifold menyebabkan bentuk silicon chip berubah dan nilai tahanan chip akan berubah sesuai dengan tingkat perubahannya. Fluktuasi ini dalam nilai tahanan dirubah menjadi sinyal tegangan oleh IC yang ada didalam MAF sensor.

Selanjutnya sinyal ini dikirim ke Engine ECU sebagai sinyal jumlah udara yang masuk ke intake manifold. Terminal VC Engine mensuplai tegangan konstan 5 V sebagai sumber daya untuk IC dan terminal E2 yang kemudian memberi input negatif ke MAF sensor. Hal ini membuat MAF sensor tetap konstan dalam segala kondisi mesin.

Seperti yang telah kami singgung diatas bahwa kebanyakan MAF sensor dan IAT sensor itu jadi satu socket. Untuk mendeteksi jumlah udara yang masuk, MAF sensor dilengkapi dengan kawat hot wire yang cara kerjanya menerima arus listrik ketika kunci kontak “ON” sehingga menjadikannya panas. Apabila terkena udara yang masuk melalui intake manifold akibat bukaan katup throttle, maka panas kawat hot wire akan turun.

Untuk menjaga tingkat kestabilan panas kawat hot wire, dalam IAT sensor dilengkapi dengan thermistor sebagai pendeteksi suhu yang masuk melalui intake manifold. Selanjutnya suhu yang terdeteksi oleh thermistor dirubah menjadi sinyal tegangan yang kemudian informasi tersebut diterima oleh ECU. Berdasarkan informasi yang diterima dari IAT sensor, kemudian ECU memberi perintah pada MAF sensor untuk memberi aliran listrik lebih sehingga tetap sebanding dengan kecepatan dan jumlah udara yang masuk kedalam intake manifold.

Setelah jumlah udara yang masuk kedalam intake manifold terdeteksi oleh kawat hot wire, informasi ini diteruskan ke ECU dan endingnya ECU memberikan perintah pada Injektor untuk mensuplai bahan bakar ke dalam ruang bakar sesuai dengan putaran dan beban mesin (tercipta campuran ideal dalam segala kondisi). Dengan idealnya rasio bahan bakar dan udara dalam segala kondisi jalanan membuat pembakaran lebih sempurna, hasilnya yaitu emisi gas buang dapat ditekan seminimal mungkin, performa mesin jadi maksimal dan pastinya lebih hemat penggunaan bahan bakar.

Dengan demikian terjawab sudah tuntutan teknologi yang harus dikembangkan dalam industri otomotif. Mungkin itu dulu yang bisa kami tuliskan dalam artikel kali ini, semoga dengan sedikit tulisan ini bisa membantu menyelesaikan permasalahan dan menambah wawasan anda. Terima kasih telah berkunjung, salam otomotif.

Avatar

Yoyok Damay

Seorang penulis yang berbagi sedikit pengalaman hidup agar bermanfaat bagi orang lain. Pecinta Otomotif, Software, Anime, dan Ikan Hias.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Woy, Ojo Nyolong !!