Cara Kerja Mesin Injeksi Pada Setiap Putaran Mesin – Kalau artikel sebelumnya membahas tentang cara kerja mesin injeksi pada saat mesin dingin. Maka dalam artikel kali ini kami akan membahas cara kerja mesin injeksi mulai putaran rendah, putaran menengah, putaran tinggi, dan saat akselerasi.

Sebelum memahami lebih lanjut artikel kali ini, kami sarankan untuk membaca terlebih dahulu artikel sebelumnya tentang:

–          Bagaimana Prinsip Kerja Mesin Injeksi?

–          Apakah Sama Konstruksi Mesin Injeksi dengan Mesin Karburator?

–          Cara Kerja Mesin Injeksi Saat Kondisi Mesin Dingin

Yuk langsung pada poin pembahasan berikut.

1.       Saat Putaran Mesin Rendah

Pada saat putaran mesin masih rendah dan suhu mesin sudah mencapai suhu kerjanya, ECU/ECM akan mengontrol dan memberikan tegangan listrik ke injektor hanya sebentar saja (beberapa derajat engkol) karena jumlah udara yang dideteksi oleh MAP sensor dan sensor posisi katup gas (TP sensor ) masih sedikit.

Hal ini ditujukan agar tetap terjadi perbandingan campuran bahan bakar dan udara yang tepat. Posisi katup gas pada throttle body masih menutup pada saat putaran stasioner / langsam. Putaran stasioner sepeda motor pada umumnya 1.400 rpm. Oleh karena itu, aliran udara dideteksi dari saluran khusus untuk saluran stasioner.

Berdasarkan informasi dari sensor tekanan udara (Manifold Absolute Pressure Sensor) dan sensor posisi katup (Throttle Position Sensor), ECU akan memberikan tegangan listrik kepada solenoid injekstor untuk menyemprotkan bahan bakar. Lamanya penginjeksian hanya beberapa derajat engkol saja karena bahan bakar yang dibutuhkan masih sedikit.

Saat putaran mesin dinaikkan sedikit, namun masih dalam kategori putaran rendah. MAP sensor akan mendeteksi tekanan udara menjadi lebih tinggi daripada tekanan udara saat putaran stasioner. Naiknya tekanan udara mengindikasikan bahwa jumlah udara yang masuk juga lebih banyak. Berdasarkan informasi yang diperoleh sensor MAP tersebut, ECU akan memberikan tegangan listrik sedikit lebih lama dibandingkan saat putaran stasioner.

Gambar dibawah ini merupakan ilustrasi cara kerja mesin injeksi saat putaran rendah 2.000 rpm. Seperti terlihat pada gambar bahwa saat penyemprotan (fuel injection) terjadi di akhir langkah buang dan lamanya penyemprotan juga masih beberapa derajat engkol saja karena bahan bakar yang dibutuhkan masih sedikit.

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa proses penyemprotan pada injector terjadi saat ECU memberikan tegangan pada solenoid injector. Dengan pemberian tegangan listrik tersebut solenoid coil akan menjadi magnet dan menarik plunyer sehingga mengangkat needle valve (katup jarum) dari dudukannya. Bahan bakar yang telah standby dalam saluran bahan bakar yang sudah bertekanan akan memancar keluar melalui injektor.

2.       Saat Putaran Mesin Menengah atau Tinggi

Saat putaran mesin dinaikkan lagi, TP sensor akan mendeteksi pembukaan katup throttle dan MAP sensor akan mendeteksi banyaknya jumlah udara yang masuk semakin tinggi. Saat ini informasi yang dideteksi oleh sensor MAP menunjukkan bahwa jumlah udara yang masuk semakin banyak. Informasi tersebut diteruskan ke ECU dalam bentuk sinyal listrik, selanjutnya ECU memberikan tegangan listrik pada solenoid injektor dengan waktu yang lebih lama daripada waktu penginjeksian sebelumnya.

Saat pengapiannya juga dimajukan agar tercapai pembakaran yang optimum berdasarkan informasi yang diperoleh dari sensor putaran rpm. Gambar dibawah ini menunjukkan ilustrasi saat mesin putaran menengah 4.000 rpm. Saat penyemprotan (fuel injection) mulai terjadi dari pertengahan langkah usaha sampai pertengahan langkah buang, dan lamanya penyemprotan hampir mencapai setengah putaran derajat engkol karena bahan bakar yang dibutuhkan juga semakin banyak.

Selanjutnya jika putaran dinaikkan lagi, katup throttle semakin terbuka lebar dan sensor TP akan mendeteksi perubahan katup throttle tersebut. Informasi perubahan katup throttle tersebut disalurkan ke ECU dalam bentuk sinyal listrik yang kemudian ECU memberikan tegangan listrik ke solenoid injektor lebih lama dibanding putaran menengah karena bahan bakar yang dibutuhkan lebih banyak lagi. Dengan demikian lamanya penyemprotan bahan bakar akan melebihi setengah putaran derajat engkol.

3.       Saat Akselerasi (Percepatan)

Bila kendaraan diakselerasi (digas) dengan serentak dari kecepatan rendah, maka volume udara juga akan bertambah dengan cepat. Dalam hal ini karena bahan bakar lebih berat dibanding udara, maka untuk sementara akan terjadi keterlambatan bahan bakar sehingga campuran menjadi miskin. Jika masih menggunakan karburator, untuk mengatasi hal tersebut ada saluran khusus untuk menyemprotkan tambahan sejumlah bahan bakar.

Sedangkan pada mesin injeksi tidak ada koreksi khusus saat akslerasi, hal ini dikarenakan bahan bakar injeksi (EFI) yang ada dalam saluran sudah bertekanan tinggi. perubahan jumlah udara saat katup gas dibuka dengan tiba-tiba akan dideteksi oleh sensor TP dan MAP. Semakin tinggi jumlah udara yang dideteksi, maka semakin banyak pula udara yang masuk ke intake manifold. Dengan demikian, selama akselerasi pada sistem EFI tidak terjadi keterlambatan pengiriman bahan bakar karena bahan bakar yang telah bertekanan tinggi tersebut dengan serentak diinjeksikan sesuai dengan perubahan volume udara yang masuk.

Demikian tadi cara kerja sistem injeksi pada beberapa kondisi putaran mesin. Masih ada beberapa kondisi kerja mesin yang tidak dibahas lebih detail seperti saat perlambata (deselerasi), selama tenaga yang dikeluarkan tinggi (high power output) atau beban berat dan sebagainya. Namun pada prinsipnya adalah hampir sama dengan penjelasan yang telah dibahas.

Hal ini disebabkan dalam sistem injeksi semua koreksi terhadap pengaturan waktu penginjeksian dan lamanya penginjeksian berdasarkan informasi-informasi yang diberikan oleh sensor-sensor yang ada. Informasi dari sensor dikirimkan ke ECU dalam bentuk sinyal listrik yang merupakan gambaran kondisi kerja dari mesin tersebut. Semakin lengkap sensor pada suatu mesin, maka akan semakin sempurna pula koreksi terhadap penginjeksian bahan bakar. Sehingga unjuk kerja mesin akan lebih optimal dan rendah kandungan emisi gas buang.

Demikian sedikit pengetahuan yang bisa kami bagikan, semoga pengetahuan kami bermanfaat untuk anda. Terima kasih telah berkunjung, salam otomotif 😊

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *